Rabu, 01 November 2017

Sensasi Kopi Kapal Api yang Jelas Lebih Enak


Sejak kecil, saya sering diledek sekaligus dicap “tomboy” gara-gara kebiasaan saya minum kopi.

Memang sejak masih berusia 7 tahun, saya sudah terbiasa ngopi.

Awalnya saya sering melihat ayah saya, almarhum, tiap pagi dan sore asyik menyeruput kopi panasnya. Beliau nampak penuh kepuasan sensasional saat menikmati kopinya di tengah dinginnya udara pegunungan di desa kelahiran saya tempo hari.

Ketika memasuki masa remaja dan hijrah di perantauan untuk melanjutkan pendidikan, hobi ngopi saya makin menjadi-jadi. Meski waktu itu tak ada yang memanggil saya “tomboy”, namun dari mimik orang-orang yang keheranan melihat keakraban – bahkan boleh dibilang kerakusan – saya melahap kopi, saya menduga masih banyak orang yang mempersoalkan femininitas saya walau mereka tak berani mengucapkannya.

Kini, setelah berumah tangga dan dikaruniai dua orang anak, bahkan anak sulung yang telah berumah tangga telah memberi saya seorang cucu yang hitam manis mirip kopi kesukaan saya, saya kian merasa mustahil berpisah dari kopi.

Bahkan saya pernah berseloroh di depan para anggota keluarga kami, “Aku mendingan berpisah sama suami ketimbang berpisah sama kopi.” Ini, kontan, membuat suami saya tersenyum sepahit kopi tanpa gula.

Saya tak pernah menyesal atau cemas terhadap coffee-holic saya. Bahkan saya makin merasa nyaman, bahagia, dan sehat. Terlebih lagi setelah saya membaca beragam hasil riset dari para pakar di berbagai belahan dunia bahwa ternyata kebiasaan ngopi sangat bermanfaat bagi kesehatan fisik maupun mental.

Kebiasaan minum kopi – menurut kesimpulan para ilmuwan – dapat menghilangkan rasa sakit, meningkatkan asupan serat ke dalam tubuh, membentengi tubuh dari gangguan liver serta kerusakan liver akibat kebiasaan minum alkohol (cirrhosis), menekan risiko diabetes tipe 2, mengurangi risiko penyakit alzeimer dan parkinson, dan mengontrol depresi dan risiko bunuh diri.

Mengonsumsi kopi juga dapat meredam penyakit jantung. Para peneliti lainnya bahkan membuktikan, para peminum kopi mempunyai DNA yang lebih kuat, serta terhindar dari gangguan sklerosis dan kanker.

Temuan-temuan berbagai riset teranyar di seantero jagat malah lebih heboh lagi: kopi dapat menghindarkan peminumnya dari risiko kanker hati, asam urat, dan kerusakan retina. Kopi pahit memerangi penyakit gusi dan gigi berlubang.

Hampir semua ilmiawan sepakat, kopi dapat memperpanjang usia. Tak heran jika Badan Kesehatan Amerika (USDA), dalam panduan gizinya tahun 2015, merekomendasikan tiap orang agar mengonsumsi kopi.


Oke... Lantas, sekarang, kopi apa yang paling cocok dikonsumsi?

Bagi saya pribadi, meskipun kopi punya seabrek manfaat kesehatan, namun pada prinsipnya saya minum kopi terutama sekali karena faktor selera kuliner. Dalam konteks ini, kualitas kopi yang bersangkutan merupakan prioritas utama.

Dari sinilah #KapalApiPunyaCerita mewarnai sejarah kuliner keluarga saya dalam tradisi perkopian.

Menurut pengalaman saya selama puluhan tahun sebagai penggila kopi, ada tujuh kualitas fundamental yang menentukan apakah kopi tertentu nikmat dikonsumsi serta digeluti sebagai “pasangan hidup”, ataukah tidak.

Ketujuh kualitas itu ialah: cita rasanya yang lezat, aromanya yang merangsang selera, kenikmatannya saat diseruput dan diteguk, sensasi rasa pahitnya yang pas dan memikat, derajat keasamannya yang tak kurang dan tak lebih sehingga makin menyempurnakan akseptabilitas lidah dan langit-langit, campuran gulanya yang kompatibel dengan serbuk kopi dan volume air, dan yang terakhir: reaksi fisik dan mental si peminum kopi tak lama setelah mereguk kopi yang bersangkutan.

Semua itu merupakan komponen-komponen yang membentuk sensasi dan berahi kuliner saat seseorang menyeruput segelas kopi.

Namun, ketujuh kualitas itu, pada prinsipnya, tergantung hanya pada satu faktor, yakni mutu dari serbuk kopi yang siap diseduh dan dikonsumsi.

Banyak jenis dan merek kopi di pasaran yang mendekati, atau berusaha mencapai, ketujuh kualitas tersebut.

Keluarga kami sejak dulu telah mencoba berbagai merek kopi yang beredar di pasaran. Namun, sejak 38 tahun yang lalu, yakni sejak munculnya Kopi Kapal Api, kami telah kesengsem pada si hitam sensual produksi PT Santos Jaya Abadi itu, dan menjadikannya bagian utama dari kebutuhan mendasar kami sekeluarga dalam memenuhi hasrat kami terhadap kopi terbaik.

Ya, kami melakukan itu karena “Kopi Kapal Api Jelas Lebih Enak” bagi kami bukan sekadar slogan atau basa-basi iklan, melainkan benar-benar suatu kenyataan.

Itulah sebabnya, saya dan seluruh anggota keluarga saya makin menyatu dengan Kopi Kapal Api.


Tulisan ini diikutsertakan pada #KapalApiPunyaCerita Blog Competition 1 November - 27 Desember 2017

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Terima kasih sudah berkomentar yang sopan dan membangun.
Jangan bosan untuk berkunjung lagi ya....